Senin, 10 Desember 2007

KEJANGGALAN-KEJANGGALAN PADA PERISTIWA 11 SEPTEMBER 2001 ATAU 9/11 (PELEDAKAN WTC)

Ini buku sumbernya yg saya jadikan rujukan: “Bohong Besar Amerika, Memutarbalikkan Seluruh Peristiwa 11 September 2001”. Karya Thierry Mayssans, Penerbit Jalan Lurus, tahun 2003. Udah diterjemahin ke 15 bahasa. Mungkin beberapa dari pembaca udah ada yang punya atau baca.

Berikut ini beberapa resume dari buku itu (plus sumber2 lain yg saya dapatkan dari luar).

Kenapa mustahil kalau seandainya Osama/Taliban yang meledakkan WTC dan Pentagon? Inilah hal-hal ganjil yang terjadi berkenaan dgn peristiwa 9/11

- Pentagon punya beberapa level keamanan superketat lewat pesawat-pesawat tempurnya yg selalu siaga satu di udara. Kalau ada pesawat asing yang mau menyelundup, tak akan selamat dari pesawat tempur penjaga itu. Pernah ada pesawat Cessna sekitar taun 90-an yang diledakkan di udara karena mencoba menyusup ke level 1 penjagaan udara. TAPI, bagi pesawat yg bisa memberi password militer khusus kepada pesawat tempur penjaga, akan bisa menembus level-demi-level penjagaan. Password ini sangat rahasia dan hanya diketahui orang-orang militer khusus Amerika. Jadi kalau lolos level 1, harus masuk level 2, memberi password dst sampai (lebih kurang) level12. Tapi lucunya, ketika Pentagon diledakkan, si juru bicara Pentagon cuma bilang “kami tidak tahu kalau ada pesawat yang menerobos Pentagon” (padahal Boeing sama Cessna yg waktu itu diledakkan gedean pesawat manaa??)

- Waktu hari-H peledakan WTC, tak ada satupun karyawan Yahudi WTC yang masuk kerja. Absen semuanya. (Sumber : Pikiran Rakyat, kira-kira edisi tanggal 13-16 September 2001)

- Ada intel Israel yang diketahui terlibat, namun lalu beritanya ditutup-tutupi oleh pemerintah (sumber : Pikiran Rakyat, idem)

- Ada masalah saham pada minggu-minggu terakhir sekitar 11 September. Apabila WTC meledak, ternyata George Bush senior yang memetik untung terbesar atas masalah saham-saham itu.

- Coba tonton video dokumenter “Analisis Teknik Sipil Tentang Peledakan WTC” yang dikemukakan seorang ahli teknik sipil AS. Memang mungkin sedikit njelimet karena banyak mencantumkan perhitungan-perhitungan teknik sipil. Tapi intinya adalah tidak mungkin kalau sebuah Boeing saja cukup untuk meledakkan WTC hingga rata dengan tanah. Kalau hanya Boeing yang menabrak, pasti dia hanya bisa menghancurkan sebatas apa yang dia tabrak saja atau malah Boeing-nya yang akan tersangkut di dalam gedung WTC. Namun yang jelas, mustahil membuat WTC langsung rata dengan tanah. Sebab WTC dibuat dari fondasi beton dan baja yang sangat kokoh. Siapapun pelaku peledakan WTC pastilah telah memperhitungkan dengan sangat teliti dan sangat mendetil bagaimana konstruksi bangunan WTC sampai ke dalam-dalamnya. Lalu sebelum WTC diledakkan, dalam gedung telah dipasang sejumlah “alat-alat canggih tak terlihat” yang bila tertabrak moncong pesawat Boeing, alat itu akan aktif dan sebenarnya Boeing hanyalah “tombol pemicunya” sehingga WTC bisa sampai rata dengan tanah. Pemasangan alat ini pastinya hanya bisa dilakukan oleh orang dalam, sehingga tak pernah kentara atau dicurigai siapa-siapanya.

- Salah satu pilot berkebangsaan Arab Saudi yang dikatakan CIA “mati setelah mengemudikan pesawat maut” ternyata masih hidup, sehat wal ‘afiat dan bekerja sebagai pilot di sebuah maskapai di Arab Saudi. Dia malah kaget dan tertawa ketika diberitahu reporter TV kalau dirinya dibilang mati sama Amerika karena jadi pilot pesawat teroris (sumber : Liputan 6)

- Bush pernah menelepon PM Israel, Ariel Sharon, agar jangan ke Amerika pada sekitar 11 September 2001 (sumber: Sabili, tapi kurang jelas dari mana Sabili mendapatkan informasi ini)

- Ketika pesawat Boeing menabrak WTC, otomatis semuanya hancur berkeping-keping tanpa tersisa. WTC saja sudah tak berbentuk lagi, apalagi si Boeing. Tapi, secara ajaib, ditemukan paspor Muhammad Atta (pilot bunuh diri) UTUH, BERSIH, DAN TANPA CACAT SEDIKITPUN di tengah-tengah reruntuhan WTC, yang katanya berasal dari pesawat Boeing. (Kok bisa yach? Apa ketiup angin keluar jendela pesawat?? :-p)

- CIA mengatakan menemukan dokumen yang ditulis Muhammad Atta kalau dia ingin “jihad”. Dokumen itu ditulis dengan pembuka “Dengan nama Allah, saya, dan keluarga”. Apabila ditelusuri lebih jauh, tidak ada yang namanya muslim sungguhan menulis “….saya dan keluarga” setelah nama Allah. Malah dalam hukum Islam bersumpah dengan nama selain Allah (misalnya sumpah demi nyawa ibu) itu dinilai syirik, ada haditsnya. Selain itu, bahasa pada isi dokumen itu lebih cenderung bergaya bahasa Amerika—demikian menurut Mayssans.

- Sebelum kejadian WTC, Osama bin Laden sempat didatangi langsung oleh orang-orang intel AS (sumber: Sabili, tapi kurang jelas dari mana Sabili dapet informasi ini)

- Reaksi Bush dan para pejabat AS yg dinilai janggal ketika menanggapi peledakan WTC. Bush misalnya, tampak terlalu tenang dan datar ketika di tengah konferensi pers ia diberitahu kalau WTC baru saja diledakkan. (bahkan menurut Mayssans yg ikut hadir di konferensi pers itu, Bush masih sempat bercanda dengan para wartawan; seolah kabar itu tidak berpengaruh apa-apa ke dia). Juga para tetinggi AS yang dengan sangat hati-hati menghindari kata “teror” atau “terorisme” saat ditanyai komentarnya tentang 9/11 beberapa jam setelah peledakan WTC.

- Secara barbar Amerika langsung menyerang Afghanistan setelah kejadian WTC. Salah satunya mengebom dari udara “pabrik senjata para teroris” di suatu tempat di Afghanistan. Setelah diteliti bangunan apa “pabrik senjata” itu, ternyata hanyalah pabrik aspirin.

Pengakuan John Perkins mengenai Peristiwa 9/11 (Lihat dalam buku ”Confessions of An Economic Hitman”, karya John Perkins, sudah diterjemahkan ke bahasa
Indonesia)

- Osama bin Laden sesungguhnya sudah dikenal baik oleh Amerika sejak perang Afghanistan melawan Rusia. Begitu juga Al-Qaeda, yang sebenarnya merupakan database pejuang Afghanistan yang melawan Rusia (Al Qaeda = Qaidah = Basic). Bahkan Amerika sendiri yang membiayai Osama bin Laden dan gerakannya untuk berperang mengusir pasukan Rusia.

- Sebelum peristiwa 9/11, keluarga bin Laden telah diungsikan oleh pemerintahan Amerika ke ”suatu tempat yang takkan diketahui oleh siapapun”.

- John Perkins, yang dalam memoarnya menulis bahwa ia telah kenal baik dengan beberapa agen intel AS; mensinyalir bahwa pola-pola 9/11 sangat khas pola (intel) Amerika. Sebelumnya ia juga telah mensinyalir pola-pola khas CIA di balik pembantaian beberapa pemimpin dunia seperti Torrijos (Presiden Panama, sekaligus pahlawan kemanusiaan penentang Amerika tahun 50-an) hingga percobaan pembunuhan Presiden Soekarno.